Tuesday, 30 May 2017

expressi

Masih bilang apa ????lndonesia itu islam klo tidak ada lslam lndonesia takkan terlahir tau







Sunday, 28 May 2017

KEBENARAN HADIZ




Beberapa hari lagi bulan Sya’ban akan meninggalkan kita dan tibalah Ramadhan, bulan penuh berkah. Sudah waktunya kita lebih mempersiapkan diri kita secara fisik dan mental agar di bulan Ramadhan nanti kita bisa memperbanyak ibadah dan amal-amal shalih kita. Berikut akan kami ketengahkan beberapa hadits-hadits shahih dan hasan seputar bulan dan puasa Ramadhan yang kami kutip dari berbagai sumber kitab hadits.




1) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ



Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub, Qutaibah dan Ibnu Hujr, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil -dia adalah Ibnu Ja’far-, dari Abu Suhail, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika telah datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup dan setan-setan akan dibelenggu dengan rantai.”
[Shahiih Muslim no. 1080; Shahiih Al-Bukhaariy no. 1898]



2) حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ



Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Alaa’ bin Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin ‘Ayyaasy, dari Al-A’masy, dari Abu Shaalih, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika telah datang malam pertama di bulan Ramadhan maka setan-setan dan jin yang jahat akan dirantai, pintu-pintu neraka akan ditutup dan tidak akan terbuka darinya satu pintupun, pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak akan tertutup darinya satu pintupun, dan seorang penyeru akan menyerukan, “Wahai para pencari kebaikan, bersegeralah (menuju kebaikan), wahai para pencari keburukan, berhentilah (dari keburukan), Allah membebaskan (seorang hamba) dari api neraka pada setiap malam (di bulan Ramadhan).”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 682; Sunan Ibnu Maajah no. 1339] – Sanadnya terdapat ‘illat dari Abu Bakr bin ‘Ayyaasy[1], namun ia hasan lighairihi dengan syawahid. Syaikh Al-Albaaniy menghasankannya dalam Shahiih At-Targhiib no. 998.

3) أَخْبَرَنَا بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah mengkhabarkan kepada kami Bisyr bin Hilaal, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan. Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada kalian berpuasa didalamnya, di bulan itu pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup, di bulan itu setan-setan jahat akan diikat. Demi Allah, di bulan itu ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa terhalang mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia telah terhalang.”
[Sunan An-Nasaa’iy no. 2106]

Tuesday, 23 May 2017

AL QUR'AN KU


Batas/sepadan/sekatan antara dua jenis laut

Menurut kajian sains,keadaan ini di panggil cline.ia terbahagi kedapa 3 jenis,iaitu thermocline  (perbedaan suhu dua jenis air,) hemocline(perbedaan kadar garam), dan pynocline (ketumpatan).
Knauss ,john A. (1997).introduction to pyhsical oceanography. 2nd edition  prentice- hall  


Allah SWT berfirman:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ  يَلْتَقِيٰنِ 
"Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu,"
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 19)


Allah SWT berfirman:

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِ 
"di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing."
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 20)

 Allah SWT berfirman:

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّـؤْلُـؤُ وَالْمَرْجَانُ 
"Dari keduanya keluar mutiara dan marjan."
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 22)

Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا  عَذْبٌ فُرَاتٌ وَّهٰذَا مِلْحٌ اُجَاجٌ  ۚ  وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَّحِجْرًا  مَّحْجُوْرًا
"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus."
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 53)







Ini bukti al Qur'an lebih dahulu ada sebelum sains


Menurut kajian sains,jantina bayi dalam kandungan ibu ditentukan 
Dengan chromosome yang di bawa air mani lelaki.ovum (benih/telur)wanita mempunyai xx chromosome, manakala air mani lelaki(sperma) mempunyai xy chromosome. Setiap manusia mempunyai  satu chromosome dari ibu & satu chromosome dari ayah. Xy chromosome dari sperma(air mani lelaki) akan bercerai & bercantum dengan salah satu chromosome ovum (benih wanita).


Jika x chromosome dari sperma bercantum dengan x chromosome dari ovum, menjadi xx, maka bayi perempuan akan membesar. Jika y chromosome dari sperma bercantum dengan x chromosome dari ovum, menjadixy maka bayi lelaki akan membesar. Chromosome - chromosome ini jumpai oleh nettie stevens  dan edumund beecher Wilson 1905
{1273 tahun selepas Rasulu'llah saw wafat(632m)}

Allah SWT berfirman

وَاَنَّهٗ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰى
"dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan,"
(QS. An-Najm 53: Ayat 45)


مِنْ نُّطْفَةٍ  اِذَا تُمْنٰى
"dari mani, apabila dipancarkan,"
(QS. An-Najm 53: Ayat 46)


Monday, 22 May 2017

kisah ilahi

                           
         













Berlaku Benar Dan Jujur Adalah Pandangan Hidup Syekh Abdul Qodir


Diriwayatkan, Syekh Abdul Qodir ditanya oleh seorang ikhwan, "Apakah pedoman dalam pandangan hidup ber'amal?". Beliau menjawab: "Bagiku wajib benar pantang untuk berdusta." Diriwayatkan, pada waktu Syekh menginjak usia muda belia, berusia 18 tahun. Pada suatu hari yaitu hari Arafah bagi kaum muslimin yang naik haji atau sehari sebelum 'Iedul Adha, beliau pergi ke padang rumput menggembalakan seekor unta. Ditengah perjalanan unta tersebut menoleh ke belakang dan berkata kepada beliau : "Hei Abdul Qodir, kamu tercipta bukan sebagai penggembala unta."
Peristiwa itu mengejutkan Syekh, dan beliau kembali pulang. Sekembali di rumahnya, beliau naik ke atap rumahnya, dan dengan mata bathinnya beliau melihat suatu majelis yang amat besar di Arafah.


Setelah itu Syekh datang menemui ibunya dan berkata : "Wahai Ibunda tercinta, tadi sewaktu saya menggembala unta, si unta berkata padaku dengan bahasa manusia yang fasih ; 'Hei Abdul Qodir, kamu tercipta bukan sebagai penggembala unta', karenanya bila bunda mengizinkan, saya ingin mesantren ke negeri Baghdad." Seperti telah diketahui umum, pada waktu itu Baghdadlah pusat pengetahuan agama Islam. Ketika Ibunya mendengar permohonan puteranya, maka keluarlah air matanya, mengingat ia sudah tua dan suaminya, yakni Ayahanda Syekh Abdul Qodir sudah lama meninggal dunia; timbul pertanyaan di hati Sang Bunda: apakah aku akan bertemu lagi dengan puteraku tercinta? Akan tetapi karena Sang Ibu adalah seorang wanita yang bersih hati, maka ia tidak menghalangi niat mulia Sang Putra.
Lalu Sang Ibu berkata: "Baiklah wahai anakku, bila memang tekadmu sudah bulat, Ibu mengizinkanmu mesantren ke Baghdad, ini Ibu sudah mempersiapkan uang 40 dinar yang ibu jahit dalam bajumu, persis dibawah ketiak bajumu. Uang ini adalah peninggalan Almarhum Ayahmu. Namun sebelum berpisah, Ibu ingin agar kau berjanji pada ibu, agar jangan pernah kau berdusta dalam segala keadaan." Syekh Abdul Qodirpun mempersembahkan janjinya pada Sang Bunda : "Saya berjanji untuk selalu berkata benar dalam segala keadaan, wahai ibunda".





Kemudian berpisahlah ibu dan anak tersebut dengan hati yang amat berat. Setelah beberapa hari kafilah berangkat, dan Syekh Abdul Qodir turut pula di dalamnya berjalan dengan selamat, maka tatkala kafilah itu hampir memasuki kota Baghdad, di suatu tempat, Hamdan namanya, tiba-tiba datang segerombolan perampok. Enam puluh orang penyamun berkuda merampok kafilah itu habis-habisan. Semua perampok tadi tidak ada yang memperdulikan, menganiaya atau bersikap bengis kepada Syekh Abdul Qodir, karena beliau nampak begitu sederhana dan miskin. Mereka berprasangka bahwa pemuda itu tidak punya apa-apa.



Kemudian ada salah seorang penyamun datang bertanya "Hei anak muda, apa yang kau punyai?" Kemudian Syekh menjawab :" Saya punya uang 40 dinar". "Tampang gembel gini ngaku kaya, huh,dasar!", hardik si penyamun sambil ngeloyor pergi. Lalu si penyamun menghadap kepala rampok sambil mengadu :" Wahai ketua , tadi ada pemuda miskin, ia mengaku mempunyai 40 dinar, namun tidak ada satupun yang percaya." "Dasar bodoh, bukannya kalian buktikan, malah dibiarkan, bawa pemuda itu kesini!", bentak si kepala rampok pada anak buahnya. Lalu Syekh di hadapkan kepada pimpinan rampok dan ditanya oleh ketua rampok : "Hai anak muda, apa yang kau punyai?". Syekh Abdul Qodir menjawab: "Sudah kubilang dari tadi, bahwa aku mempunyai 40 dinar emas, di jahit oleh ibuku di bawah ketiak bajuku, kalau kalian tidak percaya biar kubuktikan!".
Lalu Syekh membuka bajunya dan mengiris kantong di bawah ketiak bajunya dan sekaligus menghitung uang sejumlah 40 dinar tadi. Melihat uang sebanyak itu, sang kepala penyamun bukannya bergembira, tapi malah diam terpesona sejenak, lalu bertanya pada Syekh : "Anak muda, orang lain jangankan punya uang sebanyak ini, punya satu senpun kalau belum dipukul belum mau menyerahkan, kenapa kamu yang punya uang sebanyak ini justru selalu jujur kalau ditanya?". Syekh menjawab dengan tenang: " Aku telah berjanji pada ibuku untuk jujur dan tidak dusta dalam keadaan apapun. Jika aku berbohong maka tidak bermakna upayaku menimba ilmu agama." Mendengar jawaban itu, sang kepala penyamun tadi bercucuranlah air matanya, dan jatuh terduduk di kaki Syekh Abdul Qodir sambil berkata : "Dalam keadaan segawat ini, kau tidak berani melanggar janji pada ibumu, betapa hinanya kami yang selama ini melanggar perintah Tuhan, sekarang saksikan di hadapanmu bahwa kami bertobat dari pekerjaan hina ini."
Kemudian kepala perampok tadi dan anak buahnya mengembalikan semua barang-barang hasil rampokan kepada kafilah, perjalanan dilanjutkan sampai ke Baghdad. Anak buah perampok semua mengikuti jejak langkah pemimpinnya. Kembalilah mereka kedalam masyarakat biasa mencari nafkah dengan halal dan jujur.

* Diriwayatkan, kepala perampok itu menjadi murid pertamanya. *** اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridhwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.




                      

                                          NABI BERUMUR PANJNG






Nabi Berumur Panjang yang Hidup Hingga Akhir Zaman
Nabi Khidir adalah seorang nabi yang diyakini memiliki umur paling panjang dan masih hidup hingga kini, ternyata rahasia Nabi Khidir bisa berumur panjang telah banyak digali oleh para ahli berdasarkan beberapa cerita. Namun semua cerita itu merupakan sesuatu yang masih masih misteri dan kebenarannya masih dipertanyakan. Seperti apakah ceritanya?

Nabi Khidir, Nabi Berumur Panjang yang Hidup Hingga Akhir Zaman
Ada beberapa fakta yang membuktikan kebenaran Nabi Khidir masih hidup hingga kini yaitu:

1. Syaidina Ali mengaku pernah melihat Nabi Khidir berada di Ka’bah.

2. Salah seorang murid Syeikh Abu Hasan yaitu Al-Murshi mengaku pernah bertemu dengan Nabi Khidir dan bahkan telah bersalaman dengannya.

 Dia bertanya kepada Nabi Khidir bagaimana keadaan arwah-arwah orang muslim yang telah meninggal dunia, apakah mendapat siksaan atau tidak.

3. Abul Hasan asy-Syadzili mengaku pernah bertemu dengan Nabi Khidir di padang Aidzab.

4. Umar bin Sinan pernah berpapasan dengan Ibrahim al-Khawwash yang menceritakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Nabi Khidir dalam perjalanannya.

Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini? Wallahua’lam hanya Allah yang tahu, namun jika diperhitungkan kira-kira sekitar lebih dari enam ribu tahun.

Ainul Hayat, Inilah Rahasia Nabi Khidir Bisa Berumur Panjang
Nabi Khidir adalah nabi yang masih hidup hingga kiamat datang, Nabi ini dinamakan Khidir yang berarti hijau karena kedatangannya selalu membawa kehijauan disekitarnya, rumput yang awalnya kering akan menjadi hijau subur jika didatangi Nabi Khidir. Berikut adalah ulasan singkat cerita/legenda rahasia umur panjang Nabi Khidir AS hingga akhir zaman:
Ada seorang raja penguasa wilayah barat dan timur yaitu Raja Iskandar Zulkarnain, raja ini sangat disegani dan ditakuti karena dapat manaklukan berbagai wilayah dari barat hingga timur.
Namun meskipun demikian raja ini tidak sombong dan merupakan salah seorang hamba Allah yang taat. Pada tahun 322 SM, Raja Iskandar Zulkarnain mengadakan perjalanan untuk mengelilingi bumi dan ditemani oleh Malikat Rofi’il. Dalam perjalanannya sang raja bertanya kepada malikat bagimana ibadahnya para penghuni langit dan malaikat pun menjelaskan bahwa para penghuni langit beribadah ada yang bersujud terus hingga akhir zaman dan ada yng bertakbir terus hingga akhir zaman. Mendengar hal itu sang raja ingin seperti para penghuni langit yang bisa beribadah hingga akhir zaman.

Malaikat Rofi’il memberitahu kepada Raja Iskandar Zulkarnain bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber mata air yang suci, jika seseorang meminum air dari mata air itu maka ia akan kekal hingga akhir zaman kecuali jika ingin dimatikan. Namun mata air tersebut berada di bagian belahan bumi yang sangat gelap. Mata air itu bernama Ainul Hayat, inilah mata air rahasia panjang umur dari Nabi Khidir. Raja Iskandar Zulkarnain kemudian mengumpulkan semua ahli yang ada diseluruh negeri untuk menafsirkan dimana letak tepatnya Ainul Hayat berada dan salah seorang diantaranya mengetahui bahwa letaknya adalah dibagian tempat terbitnya matahari.

Raja Iskandar Zulkarnain beserta rombongannya mencari tempat tersebut dan menemukannya, salah satu diantaranya rombongannya adalah Nabi Khidir yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri.

 Setelah menemukan tempat Ainul Hayat, sang raja membawa pasukan khusus untuk masuk bersamanya dan dalam pasukan itu Nabi Khidir ikut bersamanya. Mereka menempuh perjalanan selama 18 hari didalam gua itu tanpa melihat sinar matahari sekalipun.

Dalam perjalanan itu Nabi Khidir mendapat wahyu dari Allah bahwa Ainul Hayat terletak di tepi kanan jurang dan hanya diperuntukkan untuknya saja.

sesudah menerima wahyu itu, Nabi Khidir kemudian menuju ketempat Ainul Hayat sendirian dan meminumnya tanpa sepengetahuan Raja Iskandar Zulkarnain. Itulah sekilas cerita singkat tentang mata air Ainul Hayat yang merupakan rahasia Nabi Khidir bisa berumur panjang hingga akhir zaman.

Tuesday, 16 May 2017

Hidayah



Dikarenakan inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah Ta'ala, sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah Ta'ala merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya




Dikarenakan inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah Ta’ala, sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah Ta’ala merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya. Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian”1.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah Al Fatihah:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}

“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut”2.

Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah Ta’ala. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:

(( اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْت))

“Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah”3.

Juga doa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:

(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى ))

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu)”4.

Sebaliknya, keengganan atau ketidaksungguhan untuk berdoa kepada Allah Ta’ala memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah-Nya.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya”5.

Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah Ta’ala selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:

1. Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan

Artinya selalu bergantung dan bersandar kepada Allah Ta’ala dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri.

Ini merupakan sebab utama untuk meraih taufik dari Allah Ta’ala yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufik yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah.

Coba renungkan pemaparan Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.

Telah bersepakat Al ‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzlaan (berpalingnya) Allah Ta’ala dari hamba-Nya. 























Bagaimanapun upaya kita untuk merubah seseorang, bagaimanapun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memberikannya hidayah. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman :
“Sesungguhnya kalian tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kalian kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)
Hidayah hanyalah milik Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), dan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memberi hidayah kepada orang yang dikehendakinya. Barangsiapa yang Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) beri hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang telah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sesatkan, tidak ada seorangpun yang bisa memberi hidayah kepadanya. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman :
“Alloh memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”  (QS. Al-Baqoroh [02]: 213)
dan Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman :
“Dan barangsiapa yang disesatkan Alloh, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-zumar [39]:23).
Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda:
“Jika Alloh menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya maka Alloh akan mengerjakannya, Alloh akan membuatnya mengerjakan amal sholih sebelum datang kematiannya” Rosululloh n ditanya: ‘Wahai Rosululloh manusia bagaimana yang terbaik? Beliau menjawab’ : Manusia terbaik yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, Manusia terburuk adalah orang yang berumur panjang tapi buruk amalnya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmdzi)
Di antara tanda-tanda seseorang mendapatkan hidayah adalah :

1.  Bertauhid

Seseorang yang menginginkan hidayah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), maka ia harus terhindar dari kesyirikan, karena Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tidaklah memberi hidayah kepada orang yang berbuat syirik. Allohl berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-an’am [06]:82)
  1.  Taubat kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) tidak akan memberi hidayah kepada orang yang tidak bertaubat dari kemaksiatan, bagaimana mungkin Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) memberi hidayah kepada seseorang sedangkan ia tidak bertaubat? Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman :
“Sesungguhnya Alloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”
(QS. Ar-Ra’d [13]:27 )
  1.  Belajar agama

Tanpa ilmu (agama), seseorang tidak mungkin akan mendapatkan hidayah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda :
“Jika Alloh menginginkan kebaikan (petunjuk) kepada seorang hamba, maka Alloh akan memahamkannya agama” (HR. Al-Bukhori)
  1.  Mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi hal yang dilarang

Kemaksiatan adalah sebab seseorang dijauhkan dari hidayah. Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)berfirman :
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-nisa [04]: 66-68)

5. Membaca Al-qur’an, memahaminya mentadaburinya dan mengamalkannya

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman :
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isro [17]:9)
Dalam hadits qudsi Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:
“Barangsiapa yang disibukkan Al-Qur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Alloh daripada seluruh kalam selain-Nya seperti keutamaan Alloh atas makhluk-Nya.” (HR. At-Tirmidzi)
  1.  Berpegang teguh kepada agama Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:
“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Alloh, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali-Imron [03]:101)
  1.  Mengerjakan sholat

Di antara penyebab yang paling besar seseorang mendapatkan hidayah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) adalah orang yang senantiasa menjaga sholatnya, Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:
 “Aliif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya dan merupakan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Yaitu mereka yang beriman kepada hal yang ghoib, mendirikan sholat dan menafkahkah sebagian rizki yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-baqoroh [02]:01-03
  1.  Berkumpul dengan orang-orang sholeh

Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman:
“Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Alloh, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudhorotan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang (syirik), sesudah Alloh memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Alloh itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [06]:71)
Ibnu katsir menafsiri ayat ini, “Ayat ini adalah permisalan yang Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He)berikan kepada teman yang sholeh yang menyeru kepada hidayah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) dan teman yang jelek yang menyeru kepada kesesatan, barangsiapa yang mengikuti hidayah, maka ia bersama teman-teman yang sholeh, dan barang siapa yang mengikuti kesesatan, maka ia bersama teman-teman yang jelek.”

9. Menuntut ilmu syar’i

Rosululloh ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda :
“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Alloh akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Alloh yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya…”  (HR. Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)
Dengan mengetahui hal tersebut, marilah kita berupaya untuk mengerjakannya dan mengajak orang lain untuk melakukan tanda-tanda mendapatkan hidayah ini, semoga dengan jerih payah dan usaha kita dalam menjalankan dan mendakwahkannya menjadi sebab kita mendapatkan hidayah Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He). Syaikh Abdulloh Al-bukhori mengatakan dalam khutbah jum’atnya “Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Alloh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He), niscaya bertambah hidayah padanya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwa, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.”
Semoga Allohl senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita, aamiin.
Allohu A’lam BishshowabWashollallohu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in.







Monday, 15 May 2017

TAUHID


Tauhid secara bahasa arab merupakan wujud masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).



Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.



Pembagian Tauhid



Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.

Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1)

Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)

Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.

Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah)


Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.


Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Dalilnya:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)

Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh telah kami utus Rasul untuk setiap uumat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut‘” (QS. An Nahl: 36)

Syaikh DR. Shalih Al Fauzan berkata: “Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selainNya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).

Perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??

Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al A’raf: 180)

Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.

Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.

Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.

Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat” (QS. Asy Syura: 11)

Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata ‘Allah Ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘Arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Al Qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.

Pentingnya mempelajari tauhid

Banyak orang yang mengaku Islam. Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat menjawabnya. Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat, bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya. Ia tidak tahu bagaimana sifat-sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib dipenuhinya. Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Wal’iyydzubillah. Maka sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya”



Sunday, 14 May 2017

MAKHLUK ALLAH SWT – BIDADARI

Bismillahirahmanirrahim

Pada pembahasan kali ijinkan ini saya ingin mengulas mengenai makhluk Allah SWT yang bernama Bidadari, semoga dengan membaca uraian ini di harapkan agar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT semakin bertambah, dan semakin cinta serta mahabah . Betapa keagungan dan kebesaran Allah maha segala-galanya dan memberikan  gambaran betapa tidak mulai dan pemurahnya Allah SWT, sehingga kita semakin memohon dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT serta mengharapka   Ridlonya amin.

MENGENAL MAKHLUK ALLAH SWT – BIDADARI

Bidadari dalam arti yang sesunggunya hanya terdapat di dalam Surga. Bidadari dalam surga merupakan salah suatu bentuk servis Allah SWT kepada para ahli Surga. Bahkan bidadari-bidadari yang selalu di sebut-sebut Allah SWT dalam firman-firmanNYA, mampu membuat kaum muslimin berfasta biqul Khoirot untuk memperoleh bidadari-bidadari surga tersebut.

Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa bidadari itu bukan sebagi tujuan kita dalam beribadah kepada Allah, karna bidadari merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang kedudukannya hanya sebagai hadiah bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, apabila kita benar-benar dalam beriman dan bertakwa kepada Allah SWT maka bidadari yang di janjikan Allah dalam Firman-firmanNYA akan mengikuti dengan sendirinya, jadi tiada alasan utama menjadikan bidadari sebagai tujuan kita dalam beribadah kepada Allah, dan cukup mangimaninya sebagai makhluk allah agar keimanan kita kepada Allah semakin meningkat karna percaya bahwa Janji Allah itu adalah hal yang Pasti terjadi bagi orang-orang yang beriman kepada_NYA.

Mereka (bidadari) adalah wanita suci yang selalu menundukkan pandangannya, tidak pernah melihat laki-laki selain suaminya, tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin, Mereka adalah wanita yang senantiasa merindukan suaminya setiap saat, keelokannya dan tempatnya yang terhormat, seakan –akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Seperti yang di sebutkan Allah dalam firmanNYA.

(QS Ar-Rahman ; 58) Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan

Baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : Allah menciptakan bidadari terdiri dari 4 warna, putih, hijau, kuning dan merah. Tubuhnya di ciptakan dari Za’faran, anbar dan kafur. Rambutnya dari sutra, mulai dari jari-jari kakinya dampai kelututnya di tercipta dari Za’faran. Dari lutut sampai ke payudaranya di beri harum-haruman dari minyak misik. Mulai dari kedua payudaranya sampai ke lehernya di beri harum-haruman dari minyak anbar. Dari leher sampai kepala diberi harum-haruman dari kafur. Seandainya bidadari ini meludah dengan sekali ludahan ke dunia, maka semua air di dunia menjadi misik. Di dadanya tertulis nama suami-suaminya dan sebuah nama dari beberapa nama Allah. Pada setiap tangannya terdapat 10 gelang dari emas, jari-jarinya terdapat 10 cincin, pada kedua kakinya terdapat 10 binggel (gelang kaki) dari jauhar dan mutiara.

Ibnu Abas r.a meriwayatkan, bahwa baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “didalam durga terdapat bidadari yanag namanya aina. Ia diciptakan oleh Allah SWT dari 4 unsur, dari misik, kafur, anbar dan Za’faran. Tanahnya diadoni dengan air kehidupan.”

Seluruh bidadari selalu merindukan suaminya, jika ia meludah ke laut dengan sekali ludahan, maka pasti air laut itu akan menjadi tawar sebab dari air liurnya dileher bidadari terdapat tulisan :

“Barang siapa yang suka agar dirinya seperti aku, maka hendaklah beramallah dengan bertaat kepada Tuhannya”

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya istri-istri penghuni surga (bidadari) selalu bernyanyi untuk suami mereka dengan suara yang  sangat merdu yang tidak bisa didengar oleh seorang pun (selain suaminya)” [Al-Jami’u Ash-Shaghir. halman : 79]

Ibnu Mas’ud r.a meriwayatkan bahwa baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “ketika allah menciptakan surge And, Allah SWT memanggil Jibril seraya berfirman : “Berangkatlah kamu ke surge, lihatllah apa yang telah aku ciptakan untuk hamba-hambaKU dan para kekasihKU” Jibril pun pergi mengelilingi surga, maka datanglah seorang bidadari menghampirinya, ia termasuk salah satu penghuni istana-istana surga, bidadari tersebut tersenyum pada jibril, maka bercahayalah surga dan akibat dari sinar giginya. Jibril langsuung bersujut, ia mengira cahaya itu berasal dari Nur Allah SWT yang Maha Mulia. Tidak lama kemudian bidadari itu memanggil Jibril : “Wahai makhluk yang di percaya Allah, apakah kamu tidak mengerti untuk siapa aku di ciptakan? ” Jibril menjawab ; “Tidak, aku tidak mengerti”. Bidadari tersebut berkata : “Allah SWT menciptakan aku untuk orang yang memilih ridla Allah dari pada menuruti kehendak hawa nafsunya”.

Ada keterangan dalam suatu hadist : tidak ada seorang hamba yang berpuasa Ramadlan kecuali Allah SWT akan menikahkan dia dengan seorang bidadari dalam suatu kemah yang terbuat dari intan putih yang diukir. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-NYA ;

(QS Ar rahman ; 72) (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.

Maksudnya adalah yang tersimpan dan ditutupi dalam kemah.

Dari Ibnu Amir r.a meriwayatkan, baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda : “Jika wanita ahli surga (bidadari) menengok ke bumi, maka bumi ini penuh bau misik serta dapat menghilangkan sinar matahari dan bulan ” ” [Al-Jamiu Ash Shaghir hlm 66]  Karena wajahnya yang bercahaya itu mampu meredupkan sinar matahari dan bulan

Dari Anas r.a meriwayatkan bahwa baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Jika wanita surga (Bidadari) muncul kebumi, maka keharumannya memnuhi antara langit dan bumi. (sinarnya) dapat menerangi langit dan bumi karena separoh kepala bidadari itu lebih baik daripada dunia seisinya  < Al-Jamiu Ash Shaghir.hlm;263>

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Jika seorang wanita penghuni surga menengok ke bumi pasti cahayanya akan menerangi bumi, bau keharumannya memenuhi antara langit dan bumi. Kudung bidadari yang melekat di kepalanya itu jauh lebih baik dari pada dunia seisinya ” [ Al-Jamiu Ash Shaghir hlm 263]

baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Wajah Bidadari itu bida di lihat, kamarnya lebih jernih (bersih) dari pada kaca. Lebih rendah-rendahnya mutiara yang di kenakannya itu bisa menyinari antara Timur dan Barat. (Setiap) bidadari mengenakan 70 pakaian yang tembus pandang , sehingga bisa di lihat sumsum betisnya dari luar kulitnya”

Annas r.a berkata baginda Nabiyullah Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Ketika aku di isra;kan (dijalankan waktu malam) aku masuk ke surga, didalam surga ada suatu tempat yang dinamakan “Al-Baidakh ” di atasnya terdapat kemah dari mutiara, Zabarjad hijau dan Yakut merah. Lalu ada ucapan : “Assalaamualaika Ya Rasulullah”. Aku lantas bertanya pada Jibril “Wahai Jibril, suara apa ini?”. Jibril menjawab ; “Itu adalah suara bidadari yang berada si dalam kemah, mereka minta izin pada Tuhannya untuk mengucapkan salam kepadamu, dan Allah-pun member izin pada meraka. Para bidadari itu pun berkata : “kami adalah wanita yang ridla, yang tidak akan marah selamanya, kami adalah wanita yang kekal yang tidak akan pergi selamanya”. Setelah itu, baginda Rasulullah SAW membaca firman Allah SWT”.

(QS Ar rahman ; 72) (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.

expressi

Masih bilang apa ????lndonesia itu islam klo tidak ada lslam lndonesia takkan terlahir tau